mini ff . nothing better . 8
by Meeranti Aprilisna
aku sangat kebingungan sekarang. tapi jiwa detektif yg ayah turunkan padaku membuat rasa penasaranku semakin kuat. aku berniat untuk terus mencari tahu.
tiba2 hanvun berbunyi, ~ada telfon
"yoboseo. ada apa una?" tanyaku
una: "unni, kata oppa unni lagi penyelidikan. pengen ikutt uniii. aku penasaran juga nih. sekarang uni dimana?" unna bicara manja
"aniyo, a..aku sudah pulang kok." aku berbohong. malas sekali penyelidikan ini dibantu anak kecil. wooni sudah cukup bikin pusing, tapi sekarang dia banyak diam.
una: "ahh unni bohong. uni pleaseee, oppa juga ngizinin kok." terdengar suara memelas una
"haaah ribet bgt ni anak. yasudah lah aku izinkan saja mungkin yah" kataku dalam hati
"ne. boleh asal ngga repotin." kataku singkat
una. "banzaii. sekarang unni dmn?"
"di gedung tua yg junsu critakan." jawabku.
una. "oh. aku sekarang kesana unna. tunggu yah."
lalu tefon ditutup.
"una bikin repot saja." kataku menggerutu
haewon: "lho buat apa dia ikutan. ini kan masalahku." kata wooni heran
tunggu ini kan masalah ttg shiwon, kok aku izinkan saja yah. haduh gimana ini. aku telfon saja lagi.
*ting!* oia aku ingat, aku kan mau nyelidik masalah junsu.
"wooni, selain mau selidiki masalah shiwon, aku disuru bos selidiki masalah junsu juga. mianhae baru bilang." kataku dengar suara lemah
haewon: " mwo? jadi kamu hanya manfaatin aku buat nyelidikin kasus junsu bukan shiwon? dasar memang kau wanita yg suka manfaatin segala hal semaumu. aku pulang saja." woonie marah sambil berjalan menuju keluar gedung, tapi aku langsung menahannya
"wooni, untuk kali ini tolong kamu jangan egois. mungkin bisa kamu sebut begitu, tapi kan secara tidak sengaja masalah Shiwon diselediki juga."
wooni: "secara tidak sengaja?! " makin marah
"ok ok. kita selesaikan kasus shiwon dan junsu bersamaan gimana? puas?" aku sedikit membentak
wooni: ~hanya mengangguk.
Kami pun berputar2 lagi untuk mencari tahu apa2 saja yg terkait dg shiwon. kami bertanya pada polisi, kami saling bertukar info. dan . .
jiisoon (pov) end
aku menuju gerasi, langsung masuk ke mobil. dan mengemudikannya. jarak ke gedung sangat dekat, hanya berbeda satu blok. tapi karena macet, jadi terasa lama.
10menit kemudian akhirnya sampai.
"wah gak bisa masuk nih kalau dijaga polisi. aku telfon saja uni."
aku tekan tombol nomor di hanvun.
~tuut tutt~
"ada apa lagi una?" tanya uni dihanvun
"aku diluar. keluarlah." lalu langsung menutup hanvun
beberapa saat kemudian uni keluar, dan langsung menarikku. tapi polisi melarangnya. namun uni sangat lihay berbohong aku pun akhirnya dizinkan masuk.
jisoon: "una akhirnya ada sedikit petunjuk mengenai shiwon, dengan ini akan lebih mudah menyelidiki ttg junsu" sambil menarikku ke dalam gedung.
aku melihat seorang wanita berambut panjang mengobrol dengan seorang polisi. lalu wanita itu kaget saat melihatku.
aku langsung saja memperkenalkan diri, "annyeong, yoona imnida.junsu Yo Tongseng" ~tersenyum
lalu ia terlihat mengerti. "haewoon imnida. Shiwon Yo Tongseng. Jisoon cinggu." tanpa tersenyum
"oh ini, wanita yg pernah oppa ceritakan. sangat tergila-gila dengan jejung, demi jejung ia rela dibayar murah kerja di SM." kataku dalam hati
"baik sudah selesai kan perkenalannya? nah ini jisoon. pisau ini terdapat sidik jari. kita tinggal cari tahu siapa dibalik orang yg membunuh shiwon."
Flashback Shiwon (pov)
"gomawo" leemin berbicara di hanvun
"lo nelpon sapa? cepat kimchinya mau habis. ~nyam nyam nyam" aku berteriak
Leemin: "ne, gw nelpon cinggu."
Soowook: "sejak kapan lo punya teman selain kami,lo kan jarang bergaul."
Leemin: " ah aniyo, gw jg punya teman yg lain." ~dengan wajah penuh kebohongan
"hah kenapa dia terlihat gugup yah.aneh, tak biasanya" kata gw dalam hati.
"lo ga usah bertampang seperti itu. yah baguslah kalau akhirnya lo mau berteman dengan orang lain. karena sudah sangat lama sekali lo menutup diri." kata gw sok bijak
Leemin: "ah..ne" ~sekarang ekspresinya semakin aneh saja.
"kenapa ini. setelah wooni datang ia jadi aneh. apalagi setelah info itu. dia seperti menutupi sesuatu. gw harus cari tahu tapi bagaimana yah? gw harus cari ide"
"nanti sore kalian akan kesini tidak?" tanyaku mengganti topik
Ryuwook: "ga bisa, tapi kalau siang gw bisa. mau ap mangnya?"
"gw mau ajak lo semua ke tempat judi paling top di daerah sini. tapi kita kumpul disini dulu."
Soowook: "mian, gw ga bisa ikut, ntar siang gw mau berangkat ke Chungnam."
Leemin: "mau apa lo?"
Soowok: "ada kumpul keluarga besar gw, gw musti ikut. mian"
karena semua ga bisa kumpul sore, akhirnya kita cuma bisa kumpul siang, dan itu cuma gw, leemin dan Ryuwook. kami berkumpul jam 1.30.
02.00 siang
"hah sialan kenapa gak ada yg datang. gw minta wooni kirim makanan saja lah."
~tut tut
"wooni cepat ke gedung tua, kirim makanan" lalu aku tutup tanpa menunggu jawaban. dan ku simpan di atas meja.
akhirnya, leemin dan ryuwook datang.
Ryuwook." ayo kita ke tempat judi itu"
"hah lelet sekali kalian, ok kita langsung kesana saja" kataku cepat
kamipun langsung ke Roponyung tempat judi paling top itu. kami hanya ikut sekali karena taruhannya mahal. dan yg main aku. ryoowok dan leemin hanya menonton.
04.00 sore kami pulang
"haha aku dapat sedikit nih. nih buatlo ma lo." gw bagi2 keuntungan dari judi. lumayan lah.
Ryuwook dan Leemin: "gomawo"
Ryuwook: "gw pulang ah. anyong"
"gw juga pulang.besok lo semua mau kumpul lagi?" tanyaku
Leemin: "gimana ntar."
Ryuwook: "iyah gmn ntar."
"oke. anyong."
kami pun pergi menuju rumah masing2, saat berjalan menuju rumah.
"aissh, aku lupa hanvun ku tertinggal di gedung tua. aku musti balik lagi."
di gedung tua
"nah ini dia."
saat gw mau keluar dari ruangan tempat judi gw, gw liat pria botak menggobrol dengan seseorang didekat tumpukan sofa usang. Mereka berbicara ttg junsu, membicarakan pembunuhan junsu.
"mwo?"
tapi gw sudah ketahuan
"shiwoon?!" kata pria itu.
Lalu, si pria botak dekat pria itu langsung menujuku dengan sebilah pisau. dan..
tobecontinued
//jangan copy tanpa permisi dan credit//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar