Senin, 18 Januari 2010

mini ff . nothing better . 8

mini ff . nothing better . 8
by Meeranti Aprilisna

aku sangat kebingungan sekarang. tapi jiwa detektif yg ayah turunkan padaku membuat rasa penasaranku semakin kuat. aku berniat untuk terus mencari tahu.
tiba2 hanvun berbunyi, ~ada telfon

"yoboseo. ada apa una?" tanyaku

una: "unni, kata oppa unni lagi penyelidikan. pengen ikutt uniii. aku penasaran juga nih. sekarang uni dimana?" unna bicara manja

"aniyo, a..aku sudah pulang kok." aku berbohong. malas sekali penyelidikan ini dibantu anak kecil. wooni sudah cukup bikin pusing, tapi sekarang dia banyak diam.

una: "ahh unni bohong. uni pleaseee, oppa juga ngizinin kok." terdengar suara memelas una

"haaah ribet bgt ni anak. yasudah lah aku izinkan saja mungkin yah" kataku dalam hati
"ne. boleh asal ngga repotin." kataku singkat

una. "banzaii. sekarang unni dmn?"

"di gedung tua yg junsu critakan." jawabku.

una. "oh. aku sekarang kesana unna. tunggu yah."
lalu tefon ditutup.

"una bikin repot saja." kataku menggerutu

haewon: "lho buat apa dia ikutan. ini kan masalahku." kata wooni heran

tunggu ini kan masalah ttg shiwon, kok aku izinkan saja yah. haduh gimana ini. aku telfon saja lagi.
*ting!* oia aku ingat, aku kan mau nyelidik masalah junsu.

"wooni, selain mau selidiki masalah shiwon, aku disuru bos selidiki masalah junsu juga. mianhae baru bilang." kataku dengar suara lemah

haewon: " mwo? jadi kamu hanya manfaatin aku buat nyelidikin kasus junsu bukan shiwon? dasar memang kau wanita yg suka manfaatin segala hal semaumu. aku pulang saja." woonie marah sambil berjalan menuju keluar gedung, tapi aku langsung menahannya

"wooni, untuk kali ini tolong kamu jangan egois. mungkin bisa kamu sebut begitu, tapi kan secara tidak sengaja masalah Shiwon diselediki juga."

wooni: "secara tidak sengaja?! " makin marah

"ok ok. kita selesaikan kasus shiwon dan junsu bersamaan gimana? puas?" aku sedikit membentak

wooni: ~hanya mengangguk.
Kami pun berputar2 lagi untuk mencari tahu apa2 saja yg terkait dg shiwon. kami bertanya pada polisi, kami saling bertukar info. dan . .

jiisoon (pov) end

aku menuju gerasi, langsung masuk ke mobil. dan mengemudikannya. jarak ke gedung sangat dekat, hanya berbeda satu blok. tapi karena macet, jadi terasa lama.
10menit kemudian akhirnya sampai.

"wah gak bisa masuk nih kalau dijaga polisi. aku telfon saja uni."
aku tekan tombol nomor di hanvun.

~tuut tutt~

"ada apa lagi una?" tanya uni dihanvun

"aku diluar. keluarlah." lalu langsung menutup hanvun

beberapa saat kemudian uni keluar, dan langsung menarikku. tapi polisi melarangnya. namun uni sangat lihay berbohong aku pun akhirnya dizinkan masuk.

jisoon: "una akhirnya ada sedikit petunjuk mengenai shiwon, dengan ini akan lebih mudah menyelidiki ttg junsu" sambil menarikku ke dalam gedung.

aku melihat seorang wanita berambut panjang mengobrol dengan seorang polisi. lalu wanita itu kaget saat melihatku.

aku langsung saja memperkenalkan diri, "annyeong, yoona imnida.junsu Yo Tongseng" ~tersenyum

lalu ia terlihat mengerti. "haewoon imnida. Shiwon Yo Tongseng. Jisoon cinggu." tanpa tersenyum

"oh ini, wanita yg pernah oppa ceritakan. sangat tergila-gila dengan jejung, demi jejung ia rela dibayar murah kerja di SM." kataku dalam hati

"baik sudah selesai kan perkenalannya? nah ini jisoon. pisau ini terdapat sidik jari. kita tinggal cari tahu siapa dibalik orang yg membunuh shiwon."

Flashback Shiwon (pov)
"gomawo" leemin berbicara di hanvun

"lo nelpon sapa? cepat kimchinya mau habis. ~nyam nyam nyam" aku berteriak

Leemin: "ne, gw nelpon cinggu."

Soowook: "sejak kapan lo punya teman selain kami,lo kan jarang bergaul."

Leemin: " ah aniyo, gw jg punya teman yg lain." ~dengan wajah penuh kebohongan

"hah kenapa dia terlihat gugup yah.aneh, tak biasanya" kata gw dalam hati.

"lo ga usah bertampang seperti itu. yah baguslah kalau akhirnya lo mau berteman dengan orang lain. karena sudah sangat lama sekali lo menutup diri." kata gw sok bijak

Leemin: "ah..ne" ~sekarang ekspresinya semakin aneh saja.

"kenapa ini. setelah wooni datang ia jadi aneh. apalagi setelah info itu. dia seperti menutupi sesuatu. gw harus cari tahu tapi bagaimana yah? gw harus cari ide"

"nanti sore kalian akan kesini tidak?" tanyaku mengganti topik

Ryuwook: "ga bisa, tapi kalau siang gw bisa. mau ap mangnya?"

"gw mau ajak lo semua ke tempat judi paling top di daerah sini. tapi kita kumpul disini dulu."

Soowook: "mian, gw ga bisa ikut, ntar siang gw mau berangkat ke Chungnam."

Leemin: "mau apa lo?"

Soowok: "ada kumpul keluarga besar gw, gw musti ikut. mian"

karena semua ga bisa kumpul sore, akhirnya kita cuma bisa kumpul siang, dan itu cuma gw, leemin dan Ryuwook. kami berkumpul jam 1.30.

02.00 siang
"hah sialan kenapa gak ada yg datang. gw minta wooni kirim makanan saja lah."

~tut tut
"wooni cepat ke gedung tua, kirim makanan" lalu aku tutup tanpa menunggu jawaban. dan ku simpan di atas meja.

akhirnya, leemin dan ryuwook datang.
Ryuwook." ayo kita ke tempat judi itu"

"hah lelet sekali kalian, ok kita langsung kesana saja" kataku cepat

kamipun langsung ke Roponyung tempat judi paling top itu. kami hanya ikut sekali karena taruhannya mahal. dan yg main aku. ryoowok dan leemin hanya menonton.

04.00 sore kami pulang
"haha aku dapat sedikit nih. nih buatlo ma lo." gw bagi2 keuntungan dari judi. lumayan lah.

Ryuwook dan Leemin: "gomawo"

Ryuwook: "gw pulang ah. anyong"

"gw juga pulang.besok lo semua mau kumpul lagi?" tanyaku

Leemin: "gimana ntar."

Ryuwook: "iyah gmn ntar."

"oke. anyong."

kami pun pergi menuju rumah masing2, saat berjalan menuju rumah.

"aissh, aku lupa hanvun ku tertinggal di gedung tua. aku musti balik lagi."

di gedung tua

"nah ini dia."
saat gw mau keluar dari ruangan tempat judi gw, gw liat pria botak menggobrol dengan seseorang didekat tumpukan sofa usang. Mereka berbicara ttg junsu, membicarakan pembunuhan junsu.

"mwo?"
tapi gw sudah ketahuan

"shiwoon?!" kata pria itu.
Lalu, si pria botak dekat pria itu langsung menujuku dengan sebilah pisau. dan..

tobecontinued

//jangan copy tanpa permisi dan credit//

mini ff . nothing better . 9

mini ff . nothing better . 9
by Meeranti Aprilisna

Flashback Shiwon (pov)

"shiwoon?!" kata pria itu.
Lalu, si pria botak dekat pria itu langsung menujuku dengan sebilah pisau. dan..

Shiwon (pov) end

*terusan sebelumnya*

Aku, jisoon unni, dan haewon unn berputar2 lagi untuk mencari tahu apa2 saja yg terkait dg shiwon. kami bertanya pada polisi, kami saling bertukar info dan kami pun menjelaskan lebih rinci di kantor polisi.
kami ditanyai banyak hal, dan pastinya Haewon unni lah yg paling sering ditanya. Haewon unni menjelaskan mengenai Leemin, ryoowok, soowook, dan kyungwook cs.

Dengan penjelasan yg panjang pak polisi mengerti, pak polisi akhirnya ambil alih untuk mencari semua orang yg berkaitan dengan pembunuhan shiwon. namun masalah bukan itu saja, aku dan jisson unni menceritakan masalah junsu oppa juga. pak polisi jadi kebingungan sendiri, dia hanya menjawab ' ne...ehmm.. ne ehm .. eehh'.

setelah kami selesai bicara. pak polisi berkata " masalah ini sangat kompleks tapi kami akan mencoba untuk menginvestigasi satu persatu, dan besok kami akan memulai penginvestigasian. anda sekalian silahkan pulang. kami sangat berterima kasih pada kalian. gamsahamnida."

kamipun pamit pergi, saat keluar kantor polisi . .

"mwo? suda malam. (melihat jam) aku baru sadar jam 10.00 malam. aku pulang sendiri . andwee :( "

jisoon: "harus bagaimana lagi kamu bawa mobil sendiri. kalau ikut dengan ku bagaimana dengan mobilmu?"

"ne. kalau begitu sampai jalan yung way *ada gak sih nama jalan itu ?* kita konpoy yah unni? "

jisoon: "Baiklah. kamu berani kalau nanti kita berpisah?"

"hmm be . .berani ~bicara sedikit gagap" sambil tersenyum, tapi dihati menangis T.T

haewoon: "baguslah. ayo cepat pulang sebelum tambah malam."

semua mengangguk dan pergi

~bumm bumm. kami pergi

dalam mobilku
"aku nyalakan tape saja biar tidak sepi" sambil menekan tombol play.

~ Toki wo tomete
Zutto kimino sobani itai
Motto kimiwo dakishimetai
Hitotsu hitotsu kimino kotowo omoinagara
Eien dake shinjiteta
dan selanjutnya

10 menit kemudian. pertigaan yung way

mobil kami berhenti. jisoon unni keluar dari mobilnya, ia berjalan ke belakang, ke mobilku. aku membuka jendela mobil.

jisoon: "sampai disini yah. hati2 unna."

"ne unni. Jo eun bam doeh shi gi reul."

jisoon: "Jo eun bam"

unni lalu kembali ke mobil dan pergi. ia membelokan menuju jalan gung gan *haduh asal aj* aku berbelok menuju jalan ke gyung gi do *gyung gi do disini nama jalan bukan daerah. author maksa*

beberapa saat kemudian belum jauh dari jalan yung way, aku melihat ada mobil sedan TR30 *ngasal* mengikutiku.
aku tersadar mobil itu semakin dekat mobilku, tak pikir panjang aku pun menginjak gas, ~di kec. 100m/s . .110m/s . sambil memutar volume tape dengan keras supaya makin semangat ngebutnya.

"wah siapa itu yah? " pikirku sambil menambah kecepatan

~ckiiiiiiiiiittttt
tapi sial aku mengerem mendadak karena mobil TR30 sudah di depanku.
"duukk" bunyi keras saat kepalaku terpental ke stir.
"michida. siapa sih?" aku kesal sembari mengusap dahiku yg terasa benjol.
Di depan mobilku terlihat 3 orang pria menghampiri mobilku sambil membawa sesuatu.

"keluar kau!" suru salah satu pria berteriak berjalan menuju mobilku

"oh tidak! aku telpon oppa." ~sambil tangan mengambil handphone dengan tangan sangat gemetar. menekan tombol 1(fast call to junsu) dan tersambung

"oppa cepat ke.." belum sempat bicara, orang2 dari mobil TR30 mecoba menghancurkan mobil ku dengan balok kayu. dan besi.

"BRAAANGGG!" kaca mobil sopir pecah

"kyaaaaaaa!!!!!!!.." aku teriak sangat kencang.
Lalu, aku ditarik keluar secara paksa oleh salah satu dari mereka setelah ia berhasil memecahkan jendela mobil di sampingku.
Aku sangat kelagapan, jantung berdegub kencang, pikiranku berbelit- belit tak dapat berpikir jernih. Namun mataku masih bisa melihat jelas 3 pria ini. pria botak dan pria hitam mengawalku. sedangkan yg satunya langsung ke depan mobil (sopir). Kedua nya memaksaku masuk mobil mereka. si botak menutup kencang mulut ku dengan saputangan.

"oh andwee. siapa kalian? " dibalik saputangan aku mencoba berteriak.

"tooooollllooooonnn .. hmmm." mulutku terasa panas, otakku tak terkendali, semua jadi hitam . . .

Junsu (pov)

"kyaaaaaaa!!!!!!!.." teriak seberang

"unna? ada apa? unaaaa.." aku teriak.
para db menolehku kaget. changmin dan jj yg perang bantal berhenti, uno yg sedang makan tersendak ' ohok.. ohok', dan uchun yg sedang bermain piano terhenti ' deeeenggg" *bunyi piano*

all: "mwo?"

"unna menelepon ku. dia berbicara sangat ketakutan. dan dia berteriak. ada apa ini?" aku sangat khawatir

uchun: "kau telpon junho saja, cepat."

"ne," tanpa berpikir panjang. aku tekan tombol fast call 2 (to junho)

"yoboseyo," kata seberang

"hyung, dimana unna?" tanyaku cepat

junho:" dia dari siang pergi ke gedung tua. pergi bersama jisoon." jawabnya tenang

"oh, ne. gomawo." langsung aku tutup. dan mencari nomer jisoon.
~tet tut tet tot

"yoboseyo junsu ada apa?" tanya jisoon langsung

"sooni dmn yuuna? kau bersamanya?" tanyaku dengan sangat gelisah

"eh? iyah tadi aku bersamanya. tapi kami berpisah di jalan yung way. dia ke jalan gyung gi do. kenapa dg unna?" tanya ia heran

"tidak apa2, gomawo sooni." cepat2 aku tutup telpon, karna aku khwatir sooni bertanya yg lain.

"oke kita ke jalan gyung gi do." perintahku pd yg lain layak komandan.
semua menurut.lalu kami bergegas ke garasi. kami pergi dg mobil SM5 dg uchun yg mengemudi.

~bummmm bummm
di jalan.
"oh tuhan ada apa sebenarnya, dari tadi aku coba hubungi unna tidak ada jawaban." sambil terus mencoba menelpon ~ aku duduk di depan pinggir uchun

changmin: "insting ku mengatakan ada kaitannya dg penjahat2 itu. itu pasti." kata cm di belakang dg nada srius

uno: "akupun berpikir begitu. semoga kita tidak terlambat." uno pun srius

beberapa menit kemudian kami sampai jalan gyung gi do.

jj: "tidak mungkin." kata nya setelah melihat mobil unna yg lumayan hancur.
kami melihat kaca mobil yg pecah, dan body mobil yg hancur.

"michida. bagaimana ini?" aku tambah gelisah, sambil melihat kanan kiri jalan.
sialnya daerah ini memang sepi, daerah perbatasan yg tidak ada warga sedikitpun. sulit sekali bila harus mencari saksi. rasanya hanya mobil ini sebagai saksi.

uno: "lihat hanvun unna disini." kami melihat ke dalam dan memang hanvunnya masi di mobil.

uchun: "apa gunanya bila hanya hanvun ~sambil mengambil hanvun?" pertanyaan yg membuat down *dasar uchun*

jj: "hey bukannya hanvun unna punya cctv?" ingat jj *hahaha mana ada hanvun punya cctv*

cm: "mwo? kalau begitu kita cari saja." lalu cm merebut hanvun yg dipegang uchun.

kami melingkari cm. ia terlihat menekan tombol2 sesuai printah. dan membuka rekaman terbaru.

"lihat. seorang pria botak." kataku mencoba melihat jelas

uchun: "mana?" mecoba melihat " iyah dan ada pria lain disisinya sedang memukul mobil."

tapi sangat menyebalkan saat kita sedang mengamati, hanvunnya mati ~batre kosong

jj: "SHIT!" kesal "hanya segitu?"

"tunggu.. pria botak?" aku berpikir. "pria botak itu yg memukulku. yah aku ingat. ternyata dia benar2 mencariku. HEY B*JING* KELUAR KAU, HADAPI AKU!" aku berteriak di kegelapan malam ~ namun hanya angin malam yg membalas, yg lain hanya diam.

dada ku sangat sesak. jiwa ragaku dilanda emosi. rasanya aku ingin membun*h mereka yg se'enaknya saja melukai aku dan keluargaku. aku sangat marah!

uno: "Sabar junsu. bila kau semakin marah kau takkan bisa berpikir jenih, yg akhirnya sia2 kita kesini."
bicara dg tenang, ia mecoba menenangkanku

jj: "ne. coba pikir dia (org jahat itu) pasti memancingmu untuk menemui mereka. dg unna sbg umpannya."

cm: "betul. namun bila hyung seperti ini, mereka akan dg mudah menjebak hyung," cm ikut2an, "lebih baik kita terus kejalan sana (arah lurus dari mobil)" sarannya

kami melihat ke arah sana, dan kami saling mengangguk.
tidak pikir panjang, kami langsung naik ke mobil, dan berangkat.
uchun mengemudikan bagai pembalap, aku lihat kecepatannya 120m/s.
tapi bukan itu yg aku pikirkan. Yoona, hanya ia yg ada di pikiran dan jiwaku.

tobecontinued


//jangan copy tanpa permisi dan credit//

mini ff . nothing better . 10

mini ff . nothing better . 10
by Meeranti Aprilisna

kami melihat ke arah sana, dan kami saling mengangguk.
tidak pikir panjang, kami langsung naik ke mobil, dan berangkat.
uchun mengemudikan bagai pembalap, aku lihat kecepatannya 120m/s.
tapi bukan itu yg aku pikirkan. Yoona, hanya ia yg ada di pikiran dan jiwaku.

junsu (pov) end

jisson pov

kepalaku sangat pusing, seperti tertindih pria obesitas.
namun aku coba mengangkat kepalaku sedikit demi sedikit
sembari membuka mata yang dari tadi tertutup rapat.

perlahan aku mulai melihat sekeliling.
ruang gelap yg disinari oleh lampu redup,
membuat mataku berkerja keras melihat jelas.

akhirnya terlihat, 2 orang pria 4 meter di depanku.
pria kulit hitam dan pria jangkung menatapku

(L) hitam : "hei dia bangun"

(L) jangkung : "tenang saja, tangan dan kakinya terikat rapat."

Memang terasa ada yang mengganjal. tangan ku diikat kebelakang kursi
dan kakiku juga terikat rapat. sialnya mulutku terkunci dengan sapu tangan yg mengganjal.
Aku berusaha melepas ikatan, aku bergerak kesana kemari mencoba melepaskan semua ikatan.
tapi sia2, aku hanya menghabiskan tenagaku yg makin sedikit saja.

kedua pria itupun hanya tertawa cekikikan melihat tingkahku yg tak berguna.
betapa marahnya hati ini, ingin rasanya berteriak.
tapi percuma, itu sangat percuma, namun dalam hatiku masih berharap pertolongan.

(L) hitam : "percuma saja. bodohnya dirimu." ~ lalu tertawa kegirangan bersama temannya.

tertawa mereka begitu keras, membuat seseorang marah.

"hei baboo! berisik!" teriakan pria marah.

(L) jangkung: "mianhae boss. boss wanita ini sudah bangun"

"mwo?" kata pria tadi di balik ruangan sesak ini.
tiba2 pria gendut masuk ke dalam ruangan ini, dengan mulut penuh sisa2 makanan.

"hahaha junsu yo dongsaeng. bagaimana?" tanyanya sambil mendekatiku.

mukanya tepat 10 cm di depan mukaku. aku memalingkan wajahku ke kanan

"huh bau bangkai" aku berbisik dalam hati.

(L) botak: "kau tak dengar b*d*h!" ia berteriak padaku sambil tangannya menampar wajahku.

"kyyaaaaaaaaaa!!" aku berteriak di balik saputangan.

"hei kau apakan dia?!" kata seseorang di balik pria gendut sialan itu.
dan pria itu muncul di depanku.

"hei yunna." sapanya, "apa kau mengenalku?" tanya pria ini.

aku hanya menggeleng dengan raut ketakutan.

"tak apa. aku perkenalkan diri. Leemin imnida. ~dengan senyuman bengisnya"

"leemin. tidak mungkin, tidak mungkin." hati ku terasa sesak, pikiranku terasa memaksa.
memaksa untuk mempercayai ini. "pria ini, apa mungkin yang . . ?"

"hmm. sepertinya sudah mengerti," mengambil kursi dan duduk di depanku.

Leemin: "kau tau. oppa mu itu pria yang sangat jahat dulunya." mulai bercerita *dongeng ngga tepat

"yah kau pasti tidak percaya. tapi kenyataan tidak dapat dipungkiri."

flashback leemin saat SMP bersama junsu, dll.

"hey kita main yuk. lapangannya kosong." ajak ku pada soowook dan yg lain.

soowook: "ayo!"
kami langsung berlari menuju lapangan. tapi..

"minggir kalian. ini daerahku." han goong cs mengusir kami semua.

kami hanya menurut, ia anak kelas 9, anak paling ditakuti di sekolah. kami tak berani melawannya.

"hey kalian. kenapa selalu mengganggu kami. walaupun kami adik kelas kalian, kamipun berhak memakai lapangan ini." kata junsu datang menuju lapangan bersama hyukjae , dll.

tapi aku benci dia, sok pahlawan. sok paling tenar. aku benci!

"berani menantang yah" han goong marah, "hajar mereka!" perintah han goong pada kurcacinya.
dan pertempuran dimulai.

Han goong cs tidak hanya menghajar junsu cs melainkan menghajar aku dan teman2ku.
padahal kami tidak melawan. tapi karena si junsu yg sok pahlawan kita kena batunya.

aku sangat lemah bila berkelahi, alhasil badanku remuk, namun belum lama perkelahian ini pak Jung Pankyuu datang untuk melerai kami semua.

kami semua akhirny di hukum, namun hukuman paling parah untuk han goong cs. mereka di skors 2 minggu. aku dan yg lain di skors 2 hari, begitu pula junsu cs.

junsu : "mian" menunduk padaku.

aku hanya menolehnya sebentar dan pergi.
+ + +

hari setelah skors.

"leemin. kau masi marah padaku?" tanya junsu di kelas

"aniyo" jawabku singkat dan bohong.

"kau tau, karena ulahmu aku di skors dan di pukuli ayahku." bisikku marah dalam hati.

"okei. kau masih marah, bagaimana dengan gantinya aku belikan kau bola baru?" rujuk junsu

"tidak perlu." jawabku singkat.

"kau terlambat, aku sudah membawanya. ini untukmu." sambil memberikan bola putih berbahan kulit.
itu bola yg selama ini aku inginkan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.

ia hanya meletakkan di meja ku.

"semoga kau memaafkanku." kata junsu tegas.

tiba2 . .
"junsu, ke kantin yuk." ajak han hyo joo.
dia wanita yg selama 2 tahun ini aku suka. sangat aku suka.
tapi selalu saja, JUNSU!!

"ah, baiklah." jawab junsu cepat, "kau mau ikut juga lee?" tanyanya mengajakku.

"eh aniyo. aku di kelas saja." jawabku malas.

"ne. aku ke kantin ya." lalu ia pergi bersama hyo joo.

hyo joo memegang tangan junsu mencoba menarik- nariknya.
sungguh pemandangan yg membuat aku semakin benci dia!

istirahat selesai. pelajaran terakhir akan berakhir.

"baik. pertanyaan terakhir. siapa yg bisa jawab, akan ibu beri nilai." tanya ibu guru pada kami semua.

aku hanya melihat lembaran- lembaran buku, aku sangat malas dengan pelajaran sejarah.

"Shim Tong Sai" kataku sedikit keras saat ku melihat gambar seorang pria memegang timbangan

"ya leemin, apa katamu barusan?" ibu guru mengagetkanku.

"eh.. Shim tong Sai." kataku lagi.

"wah benar sekali. itu jawaban untuk pertanyaan tadi. kau mendapat nilai 100 leemin." kata ibu guru dengan senyum ramahnya.

aku hanya terbengong sambil melihat teman2ku yg heran setengah mati. mereka seperti terhipnotis.
rasanya mustahil memang. untuk mendapatkan nilai 100 bagiku, aku harus ritual khusus ke gunung Kilimanjaro mungkin.

~ting ting ting. bel sekolah menandakan pulang.

"baik anak2 sampai disini dulu. hati2 saat pulang" dan ibu guru pergi.

"wah aku tak percaya." kata soowook di pinggir ku
aku hanya tersenyum.
semua orang tidak peduli, mereka keluar sambil menggendong tas.

"kau 'pintar' leemin." kata junsu di belakangku.

tidak! aku sangat benci kata2 itu. 'pintar' kata2 yg menyakitkanku.
aku tak percaya musuhku ini berkata itu padaku.

"sampai jumpa besok." lalu junsu pergi sembari di tarik2 hyo joo.

"soowokk kau duluan saja. aku mau memeriksa tas ku sebentar." kataku bohong.

soowook: "baiklah" lalu pergi

setelah kelas sepi. aku keluarkan bola puti pemberian junsu.
aku lemparkan bola itu ke segala arah.
kaca ku pecahkan, meja kursi ku hancurkan, semua kurusakan dg bola sialan itu.
tak perlu waktu lama, kelas sudah seperti gudang tua.

dengan napas terengah engah, dan tangan yg merah- merah aku keluar dari kelas.

"sial!" aku terkejut ketika beberapa teman kelasku memandangku.

"kau kenapa lee?" tanya junsu.

aku tak peduli, dan walau aku dikeluarkan sekalipun asalkan tak pernah melihat kamu lagi.
dan itu menjadi kenyataan. orang tua ku sangat marah dengan kejadian ini. ditambah aku benar2 dikeluarkan.

orang tua ku tiba2 berubah tak peduli padaku, terutama ayahku.
setelah kejadian itu aku kabur dari rumah, aku tak ingin lagi di sini.

seminggu setelah aku kabur, aku kembali ke rumah.
entah apa yg membuat hati ku ingin kembali.
dan ternyata memang sesuatu membuatku harus datang ke sini.

ayahku yg aku anggap paling jahat, ternyata sudah meninggal.
ia dikuburkan kemarin. mama menceritakan dibalik semua.
ternyata ayah mencariku kemana2, menghabiskan banyak uang untuk mencariku.

saat hendak menyebrang jalan dalam keadaan tak sehat, ayah tertabrak truk yg mengebut.
truk itu tabrak lari. ayah yg sudah sekarat akhirnya meninggal saat di mobil ambulans.

miris hatiku mendengar semuanya. aku kebingungan dan mata ini meneteskan banyak air mata.
rasanya aku yg sangat bersalah karena hal ini. aku benci pada diriku

+ + +
3tahun kemudian
saat junsu sudah bergabung dg dbsk.

"yoboseyo lee, kamu tau junsu dan hyukjae diterima di SME?"
tanya hyo joo saat bertamu ke rumahku

"masa? hebat mereka." jawabku singkat.
musuh lamaku ternyata sudah menjadi orang, berbeda dg ku.
untuk mendapatkan hati hyo joo saja tidak bisa.

ternyata hyo joo tetap mencintai junsu.
walau ia tak pernah dapat tanggapan junsu yg semakin sibuk.
dan sering kali tidak dipedulikan junsu.
saat ia menelpon tak pernah ada jawaban, dansekarang nomor telponnya ganti.
saat ke rumah junsu, ternyata keluarganya sudah pindah dan tidak ada pemberitahuan.

hyo joo sebenarnya sangat kecewa, tapi ia tetap sabar.
aku sangat kasian padanya, tapi aku bisa apa.

beberapa minggu kemudian.
hyoo datang ke rumahku.

"kamu tahu, junsu sudah punya pacar?" hyo berkata terbata- bata sambil menangis.
matanya bengkak, mukanya pucat.

aku tak tega melihat wajah cantiknya rusak hanya karna seorang junsu.

beberapa hari kemudian hyo joo dikabarkan bunuh diri.
aku curiga ini karna kecemburuannya yg memuncak.

saat itulah rasanya aku ingin membalas semua perbuatan junsu

flasback leemin selesai

to be continued

//jangan copy tanpa permisi dan credit//

mini ff . nothing better . 7

mini ff . nothing better . 7
by Meeranti Aprilisna

mian baru lanjut. mari membaca !

by Meeranti Aprilisna

tapi di luar terdengar ketukan langkah kaki. siapa itu ?

" ee. ap kalian dengar langkah kaki oppa?" tanyaku di kegelapan.

changmin: "aku nyalakan lampunya ya?" bangun dari sofa

uchun: "andwe, andwe. tunggu siapa yg datang. kita siap2 saja. junsu kau dengar?"

junsu: "ne"

lalu orang di luar itu membuka pintu, dan masuk.

~ klik ~ lampu dinyalakan

aku, cm, uchun siap memukul,
~kyaaaa ~ wanita itu berteriak

changmin: "eehh ji soon ada apa malam2 kesini? kenapa tak bilang sebelumnya, kami kira org lain"
semua terkejut dan menurunkan kepalan tangan yg tak jadi melayang

ji soon: "mianhae. aku di suru bos kesini. tapi kenapa aku yah? ahh tak tau lah. dia menyuruhku kesini untuk membawa kabur junsu. dan saat lihat kalian membuat rencana ini ..sulit."

uchun: "enak saja. bukannya lebih mudah ada banyak yg membantu. tapi kenapa dibawa kabur? junsu kan belum sembuh total?"
semua ikut penasaran

ji soon: "begini uchun, saat tahu junsu terluka boss jadi khawatir. dia sudah menghubungi yunho, dan kata yunho semua baik2 saja. tapi boss tetap khawatir, ia merasa ada yg meneror junsu. dia berpikir keras setelah uno bercerita. tentang gedung tua itu, pria botak yg melukai junsu, dan kematian shiwon. berkaitan siihh.. makanya boss ingin aku membawa pergi junsu diam2 tanpa kalian. karena tidak mungkin aku mengajak kalian. yg ada para cassi ikut2an" ~ sambil menghembuskan nafas panjang
kami mendengar dg seksama

junsu: "mwo? untuk apa aku di bawa kabur? di sini aman kan?"

ji soon: "wah kau ini. aku saja bisa menyelinap dengan mudah. sudah kita harus cepat. di pinggir ruang ini ada tangga darurat, tapi di depan ada lobi. saat aku masuk tidak ada yg jaga. entah sekarang ada atau tidak." ~ lalu liat keluar dari luv di pintu ~ " wah sudah ada"

"sebentar. unni kenapa tidak menuggu oppa sembuh? aku tak tega kalau oppa sekarang dipaksa pulang" ~melihat junsu dengan muka iba

jisoon: " kau junsu yo dongsaeng? cantiknya . eh begini .." (berenti, menunggu aku menyebut namaku)
"kim yoona" jawabku langsung
jisoon: " begini unna. kau tau kan pembunuhan shiwon terjadi tadi? (aku mengangguk) itu tandanya penjahat itu sudah mulai bergerak. dan boss tidak mau terjadi hal buruk lagi terjadi pada junsu, atau yg lainnya."

"eh . .ne araseo. kalau begitu ayo pergi. oppa apa kau bisa berdiri?"

junsu: "bisa. yg luka kan mukaku una." ~lalu berdiri.

aku memasangkan jaket pada oppa. setidaknya menutupi baju pasiennya.
lalu kami merundingkan cara bagaimana kabur, dan . . (2 menit kemudian)

changmin: "hai.." ~menyapa penjaga

penjaga: "mwo? changmin dbsk. apa aku mimpi?" ~melotot sambil memegang muka cm

changmin: ~sedikit ketakutan "eh ne. boleh bantu aku sebentar?"

penjaga: "apapun ku lakukan untuk mu. aku juga seorang cassi" sambil tersenyum lebar sekali

lalu cm membawa penjaga jauh dari ruang junsu. aku,uchun, junsu dan jisoon keluar. kami mengendap- endap layak seorang mata2. lalu berlari di parkiran menuju mobil yg sudah dipersiapkan jisoon. kami menunggu cm. 3menit kemudian ia datang, dan kami langsung cabut . ~ buuummm
***
Esoknya. di kantor SM Entertaiment. ruang DBSK

boss: "sudah kita jangan menunggu lagi. kita harus selidiki kasus ini secepatnya. masalah ini bisa menggangu aktivitas kalian, aku tidak mau ada yg terluka lagi"
semua serius

junsu: "aku juga setuju. kalian suda mengerti kan dengan ceritaku tadi?"
semua mengangguk mengerti

jisoon: "kapan kita akan selidiki kasus ini? dan siapa yg akan handle?"

boss: "kamu dan Hae Won. hari ini juga."

jisoon: "mwo? wae? dia kan egois boss." ~pasang muka kesal

boss: "ayolah soonie. 2 tahun bekerja disini masih saja begini. lagi pula dia kan dekat dengan shiwon."

jisoon: "terserah lah, asalkan dia tidak menyebalkan." ~muka cemberut

boss: "dia pasti sedang bingung. pasti dia juga setuju saja, oppanya meninggal dengan tidak wajar. ia pasti ingin selidiki juga."
jisoon mengangguk

junsu : "okey. selamat bekerja. hwaiting!"

jisoon (pov)
dan aku mulai menjalankan rencana. aku pergi ke rumah shiwon dengan mobil sedanku. sambil memasang muka kesal selama perjalanan. 30menit kemudian sampai lah di rumah hae won. tepatnya jalan ..
aku menuju pintu rumah hae woon. terlihat rangkaian bunga bertuliskan "turut berduka cita" di depan rumahnya.
"rasanya kurang tepat." berbicara dalam hati

~ting tong ~ bel pintu dibunyikan
lalu seorang wanita membukakan pintu.
haewon terlihat sangat terpuruk. rambut acak2an, mata bengkak. dan mukanya pucat.

"haewon aku turut bersedih. apa aku boleh kedalam?" kataku langsung
ia mempersilahkan tanpa banyak bicara, se-egoisnya dia tapi rasanya aku sangat kasian padanya.

setelah duduk, kami hanya berdiam, beberapa lama kemudian

haewon: "ada apa soonie?"

"eh. begini wooni. ttg kematian oppamu, boss menyuruhku untuk ikut menyelidiki. dan menurutnya kau akan setuju saja. aku pun lgsg dikirim kesini."

haewon menyeka air matanya dan terlihat sedikit bersemangat.

haewon: "aku..ne aku setuju." lalu berdiri, dan pergi entah kemana. "sebentar"
5 menit kemudian, ia sudah mengganti bajunnya dan menata rambutnya.
"ayo kita mulai selidiki dari gedung tua itu."

kamipun segera berangkat, di perjalanan haewon bercerita banyak ttg shiwon dan teman2nya dan ttg hubungan buruk mereka dengan Kyungwook cs.
inti ceritanya:
Shiwon, oppa haewon terkenal dengan galaknya, tapi hatinya akan luluh dengan kesetian. dan akan sangat takut pada Kyungwook cs krn hutangnya. ia memang suka berbohong pada haewon, tapi haewon tahu kalau shiwon tidak mau melibatkannya. 'nothing better than him' kata wooni.

Soowook, pria jangkung kurus tapi punya tenaga yg cukup kuat untuk menghancurkan banyak batu bata dengan kepalanya.menurut wooni ia selalu misterius.wooni saja masi bingung dengan soowook. ia berumur 20 atau 25.

Leemin, pria pendek berambut ikal.kata wooni, ia yg paling bodoh dari yg lain. tapi ia akan sangat marah kalau ia diledek 'pintar'. terakhir tragedi kemarahan terbesarnya saat kelas 9. entah apa penyebabnya, tiba2 ia menghancurkan kelas. dan akhirnya ia dikeluarkan dari sekolahnya.

Ryuwook,pria kekar yg lembut hati. bisa disebut banci saat ia berhadapan ibunya. ia akan menangis bila dimarahi ibunya. tapi ia cukup pintar dalam beberapa hal.

dan ttg Kyungwook cs. beranggotakan 5 orang. kyungwook si leader, si bobi (botak biadab), si tompel, si tongkos, dan si pendiam.

30 menit kemudian kami sampai di gedung tua yg dibicarakan di kantor.
tempat itu dijaga polisi dengan garis kuning di tiap sisi. kami tak punya alasan kuat untuk meliput. syukurnya ada staff chanel KBS. kami pun minta bantuan mereka, kami berpura2 menjadi wartawan lalu masuk ke dalam. dan investigasi di mulai.

haewon: "disini ruangan waktu mereka berkumpul. uh baunya masi sama"

"lalu dimana oppamu meniggal?" tanya ku heran

hw: "disana. di dekat tumpukan sofa." ~sambil menuju tumpukan sofa

"uhm jaraknya hanya 4 meter dari pintu ini" aku mengamati "kejadiannya sore kan? apa mereka masi disini?"

hw: "entahlah, aku kan pulang pagi itu juga" ~berdiam, "eh tapi oppa menelponku pukul 2.00 siang. katanya 'wooni cepat ke gedung tua, kirim makanan' dengan suara biasa saja. tapi aku sangat sibuk di kantor dan tiba disini pukul 5.00 sore. dan akhirnya .." ~diam tidak meneruskan, matanya mulai berkaca

aku sangat kebingungan sekarang. tapi jiwa detektif yg ayah turunkan padaku membuat rasa penasaranku semakin kuat. aku berniat untuk terus mencari tahu.

tobecontinued

//jangan copy tanpa permisi dan credit //