Senin, 15 Maret 2010

JIWA MATI

JIWA MATI
by Meeranti Aprilisna
hari pertama

Tatapan kosong dengan getaran kecil di bibir,
"kau tau ada apa?" tanyaku pada seseorang saat melihat anak kecil itu dengan tatapan kosong.
Malangnya, nasib sapa tahu. seorang gadis kecil yg umurnya dapat ditebak, sekitar 5-7 th sudah bisa merasakan hal- hal gaib seperti ini. desa ini memang penuh hal- hal aneh, itu yg membuat anak yg masi rentan ini mengalami nasib ini, nasib sebagai "orang istimewa". hal ini membuat aku semakin takut disini.
7 hari tugas ku menjadi seorang jurnalis muda di desa Pakawongan.
dengan upah besar siapa tidak mau? 50JUTA!! dan hanya 7 hari.
tapi memang dasar uang butakan mataku, aku harus selidik- selidik mengenai segala hal di desa ini. desa yg ku anggap penuh "makhluk itu". apalah daya tanda tanganku di atas materai itu sudah cukup jelas.
***

hari kedua

Pagi yang cerah sangat menyambut desa ini. hhmm aku bersiap untuk mandi. 
"apa ini ? ?" kata ku keras saat melihat kamar mandi atau apa yah aku sebutnya.
tidak ada atap, closet standar dan berkerak, dan lumut dimana- mana.
fvcin shit, and more more shit!
"AKU SUDAH TIDAK TAHAN" teriakku kencang.
Bu Ani yg menemaniku selama disini langsung mendatangiku.
"nak tolong jangan brisik, disini sangat 'sensitif', tolong yah nak" ibu Ani menenangkanku.
memang dasar memang desa sialan. aku pun hanya diam, dan kembali ke kamar tanpa bicara.
aku binggung , "mau mandi dimana?"
dalam gemelut pikiranku dengan mata melongo ku, aku melihat seseorang datang. pria tampan dengan pakaian putih datang menghampiriku. dengan pikiranku yang keruh dan jiwa penuh emosi ini aku bertetiak lagi.
AARRRRGGGG ~ "BLUK" dan gelap
***

"nak sudah sadar?" terdengar suara perempuan paruh baya dengan lemah lembut.
"dddimana aku?" aku jawab parau
"di rumah ku nak. kau tidak apa- apakan nak?" tanyanya lagi
"ah? hanya sedikit pusing. hmm ibu, apa disini ada yg tinggal selain kita? tanyaku sangat ingin tahu.
"disini cm kita bedua nak. memang kenapa? km kok bisa gini nak?"
"apa?! hanya kita? lalu cowok tadi sapa bu?" aku kanget tiga perempat mati.
"cowok mana nak? disini cm kita bedua" ibu menegaskan.
"jajajadi tadi sapa bu? ak lihat pria berpakaian putih tadi bu, di depan mataku bu."
"nak, mungkin kau hanya mengigau karena terlalu lelah atau apalah." mengusap rambutku, " istirahatlah dulu"
"tidak bisa, aku ingin pulang!" aku langsung berdiri dari kasur lusuh ini, dan mencoba mencari koper ku. aku masukan semua baju.
"nak, tunggu. ingat materai bertanda tangan itu. tolong tenang nak" ibu Ani berusaha menahanku saat aku sudah membuka pintu kamar.
"tidak bu, saya tak tahan beberapa jam disini." sambil keluar dari kamar menuju pintu depan.Berjalan semakin cepat dengan menopang segala yang memberatkan, TIDAK!
"oh pikiran ku terlalu kacau, ini benar- benar emosi yg menggumpal" pikiranku mengacau.
aku berhenti tiba- tiba. " sepertinya aku terlalu cepat mengambil keputusan" kataku membalikan badan pada ibu Ani.
Dia hanya tersenyum ramah, hingga aku merasa malu dengan tindakan gegabah tadi.
"MAAF BU" kataku sedikit keras namun dengan tundukan wajahku yang merah.
"tak apa nak. ibu mengerti. kau sedang bimbang dengan semua ini. tolong yakinkan hatimu nak, disekitarmu sekarang itu ciptaan Tuhan, untuk apa kau merasa takut, seperti tadi"
"ah?" aku menatap muka ibu. " maksud ibu yg tadi aku pingsan?" ibu Ani mengangguk, "aku memang melihatnya bu, apa ibu pura- pura tidak tahu soal itu?" aku penasaran.
ibu berjalan menuju kursi, dan mempersilahkan aku duduk.
"itu anak ku , nak" di melihat foto yang tergantung di dinding.
Aku baru melihatnya, atau memang aku tidak menyadari sebelumnya. oh tidak! aku mulai terbiasa dengan hal- hal aneh ini.

"dia bernama Romi. Sudah 3 tahun sejak ia tinggalkan ibu sendiri.
jadi saat itu ia sedang pergi ke hutan sana. ia berniat untuk mencari petualangan baru bersama temannya Doni.
Sekitar 5 hari mereka di hutan sana, tapi saya meresa tidak enak hati saat itu. Dan ternyata itu petanda. kau tahu nak?" ia seperti meyakinkanku, aku menggeleng

"ia dibunuh oleh Doni, temannya sejak kecil. Ironis sangat ironis..." matanya berkaca- kaca, ia mengambil sapu tangan dari bajunya. lalu melap wajahnya yang mulai basah dengar decuran air mata.

"memang apa alasan Doni membunuh Romi bu ?"

"Doni cemburu nak. Itu yang ibu dengar dari Ayah Doni, saat itu ada wanita cantik datang ke Desa ini. Namanya Susi . Banyak orang menyukainya termasuk Doni dan Romi yang jatuh cinta pada  Susi. Mereka awalnya hanya saling bercanda untuk bersaing mendekati Susi, tapi Susi seringkali tak acuh pada Doni dan hanya pada Romi lah Susi sangat dekat. Seminggu mereka masi baik- baik saja, tapi minggu ke dua rasanya ada yang aneh dengan hubungan Doni dan Romi, saat itu pula Doni mengajak Romi ke hutan." matanya sudah tidak berkaca, tapi penuh sorotan kebencian, aku jadi takut dengan ibu Ani.

"Maaf nak. ibu jadi bercerita panjang begini" ia mulai tenang kembali

"ah, tak apa bu, berita ini bagus untuk menambah entri di artikelku." aku tersenyum, berniat pecahkan suasana buram ini. dan ibu Ani membalas senyumku ramah.

"aku keluar dulu yah bu."
aku berniat cari udara segar. walau jam menujukan pukul 10 pagi

Aku berjalan- jalan dari gang ke gang, entah kemana tujuannku. aku hanya di temani note lusuh dan ballpoint kesayanganku. Berharap ada hal- hal menarik yang dapat menambah entri artikelku.

"huh!" keluhanku karena tak temukan hal menarik disini. Lalu aku balikan badan, dan..

"APA?" dibelakangku adalah tempat pemakaman.

"oh shit. kenapa bisa? perasaan aku tidak lewat sini. Ya Allah, kenapa ini Ya Allah?" aku mulai kebingungan. Aku berjalan dari sini kemari mencari jalan untuk keluar, tapi nihil. Pohon- pohon tinggi dan rerumputan liar penuhi pemakaman ini. tak jarang aku menginjak nissan demi mencari jalan keluar dari sini.

Aku sangat kebingungan, sebenarnya aku berniat menelpon ibu Ani tapi aku lupa kalu handphone aku tinggal di rumah.Aku mulai menangis, sedikit demi sedikit isakan tangis pecahkan keheningan pemakaman ini. tapi dari belakang ada yang memanggilku. "Nasya"

itu suara pria, aku tak berani untuk menoleh dan meneruskan tangisanku dan semakin ku kencangkan.
"tolong jangan berisik ini pemakaman. anda tersesat?" tanyanya menghampiriku.

"jangan mendekat!" aku berterika tanpa menoleh ke belakang

"oh baiklah. aku hanya berniat membantu, tapi ya sudah kalau anda merasa terganggu, atau anda merasa takut?"

"diam. katakan saja dimana jalan keluarnya!" aku menyentak

"oh baiklah sepertinya anda takut saya. tapi kenapa anda berharap saya akan menjawab pertannyaan anda, sedangkan anda tidak menoleh saya sedikitpun"

"banyak bacot! baiklah aku bisa pergi dari sini sendiri." lalu aku tinggalkan pria itu sendiri. aku lari tanpa tujuan, hanya untuk menjauhi pria itu. Tapi ketakutan ini menggerumuti jiwaku, dan segala hal negatif menghantui pikiranku. Dengan nafas berat dan pandangan tak jelas aku terus berlari telusuri pemakaman ini.

"ini pasti mimpi buruk. pasti!" kataku dalam hati, hanya untuk membuat aku tenang. tapi BUKAN! ini kenyataan, karena saat aku menginjak sesuatu aku merasa sakit.

"AUW! sialn apa ini?"

ranting tajam yang lukai lutut ku. walau tak parah tapi luka cukup dalam sehingga darah menetes. Walau sakit aku tak peduli, aku hanya ingin keluar dari sini.

"DORR!" bunyi senapan hentikan kakiku.

"Sialan! siapa itu?" dengan rasa tak jelas ini aku mencari sumber suara itu. dan ketemu!
sekitar 20 meter dari aku berdiri ada 2 orang pria melihatku.

"Neng Nasya kan?" tanya seorang pria dengan muka lembut. Ah! itu Pak Udin.

"pak Udin, syukurlah. syukurlah." aku langsung berlari dan memegang tangannya.

"kami pikir kau tersesat, makannya kami mencarimu. ayo sekarang pulang."
Aku hanya mengannguk dengan muka lemasku.Alhamdulillah.
Namun, saat kami bertinga menyusuri pemakaman aku melihat bayangan melewat di semak- semak sebelahku.

"ah!" aku melihat bayangan pria.

"ada apa neng?" tanya pak Yudi di sebelah kiri pak Udin.

"aku melihat pria pak disana."

mereka langsung mencari, dan mereka menggeleng.
tapi aku yakinkan bahwa aku melihatnya.Lalu mereka jelaskan suatu hal, bahwa disini tak ada siapa siapa, kalaupun ada mungkin itu hantunya Romi. Dia dibunuh di daerah sini.
oh? aku menyesal. jika memang Romi aku harusnya percaya, tapi tetap saja dia buka manusia, tapi Jiwa Mati.